APA ITU VENTURE CAPITAL

Management Credit Bank

11/29/2017


Sektor perbankan sedang dalam ‘PeWe’ (posisi wenak). Tren pemangkasan suku bunga acuan, BI 7-day Reverse Repo Rate (RRR), cukup menolong penyusutan suku bunga simpanan. Transmisi penurunan suku bunga acuan ke suku bunga simpanan sepanjang Januari-September 2017 mencapai 80% atau 160 basis poin.

Selama periode yang sama, penurunan suku bunga kredit baru bertransmisi 62% atau 123 basis poin. Imbasnya, perbankan menikmati NIM (net interest margin) –selisih antara suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan– yang lebih tinggi. Per Agustus 2017, NIM industri perbankan rata-rata 5,35%. Besaran NIM di kisaran 5%-6% adalah kondisi ideal lantaran mampu memelihara laba bersih perbankan pada level optimal. Klaim ini tampaknya cocok. Coba tengok sejumlah bank papan atas yang sudah merilis laporan kinerja selama kuartal III-2017. Mayoritas bank membukukan pertumbuhan laba yang tinggi (Investor Daily, 24-26/10).

Pertumbuhan laba perbankan yang tinggi agaknya kontras dengan kondisi perekonomian nasional yang sedang lesu. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2017 kemungkinan tidak jauh beda dibandingkan dengan kuartal kedua yang stagnan di level 5,01%. Jelasnya, NIM dan laba yang tinggi menyisakan tanda tanya besar.

Faktor efisiensi memungkinkan menjadi penjelasnya. Penopang utama kenaikan laba bank adalah upaya efisiensi biaya dan kemampuan bankir menekan pencadangan kredit bermasalah (non performing loan). Dengan menekan kredit bermasalah, pendapatan bertambah karena pencadangan menurun. Kenaikan pendapatan yang didapat dari menekan pencadangan mengindikasikan kenaikan laba tidaklah ideal. Pencadangan disisihkan dari pendapatan pada periode sebelumnya.

Pada periode berjalan, pencadangan kemudian diakui sebagai pendapatan. Sangat boleh jadi, aliran pendapatan tidak ada sama sekali. Jika nantinya (mudah-mudahan tidak) kredit macet betul-betul terjadi, sebagian pendapatan pada periode berjalan akan diambil untuk menutup kerugiannya. Padahal, kontrak kredit diteken pada periode sebelumnya. Artinya, kenaikan pendapatan dan laba adalah rekayasa akuntansi semata. Alhasil, kenaikan NIM dan laba perbankan sejatinya semu.

Pertama, kinerja perbankan tidak diikuti dengan pertumbuhan signifikan penyaluran kredit produktif. Hingga Agustus 2017, kredit perbankan hanya tumbuh 8,4% year-on-year (y-o-y), sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 7,9%.

Kedua, pendapatan bank di Tanah Air sekitar 80% masih berasal dari transaksi kredit. Dengan demikian, apabila pertumbuhan kredit meleset dari yang diharapkan akibat ketidakpastian ekonomi global dan domestik, pendapatan yang diraih perbankan niscaya juga tidak sesuai ekspektasi.

Ketiga, pendapatan berbasis biaya (fee based income) dalam jangka pendek belum mampu menggantikan pendapatan bunga. Ironisnya, jika fee based income ini dominan, bank akan menjauh dari fungsi intermediasi yang diembannya. Dengan demikian, kenaikan NIM dan laba perbankan secara kualitas justru menurun.

Sementara dari sisi hilir permintaan kredit masih terbatas, bank akan menyalurkan kelebihan likuiditasnya ke berbagai macam instrumen guna mendapatkan imbal hasil. Dalam pandangan bank, kelebihan likuiditas memiliki cost of holding money. Jalan pintasnya adalah investasi portofolio untuk memarkir dananya.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan perbankan masih konsisten menambah kepemilikan pada surat berharga negara (SBN) tradeable. Sampai medio Oktober 2017, kepemilikan bank atas SBN tradeable mencapai Rp 595,32 triliun, meningkat 49% dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.

Tingginya minat bank menumpuk dana pada instrumen SBN tradeable terkait dengan risiko yang minim. Dari segi yield, SBN juga cukup atraktif ditopang oleh perbaikan rating dan outlook yang positif. Dari sisi regulasi, kebijakan BI pun ‘merestui’ dengan mengizinkan SBN sebagai komponen perhitungan giro wajib minimum. Tendensinya, permintaan SBN akan meningkat.

Sesuai hukum pasar, tren permintaan SBN akan menaikkan harganya. Harga surat berharga lain, obligasi sektor korporasi misalnya, juga akan tersundul naik. Akibatnya, perputaran dana perbankan hanya terjadi antarinstrumen finansial memburu imbal hasil yang lebih tinggi.

Bagi pemerintah, tingginya permintaan SBN mendorong penerbitan SBN dengan nominal yang lebih besar dan bunga kupon yang lebih tinggi. Penambahan utang baru yang ditetapkan pada APBN 2018 mencapai Rp 399 triliun. Melihat jatuh tempo utang di 2018 yang sebesar Rp 315,1 triliun, tampaknya akan ada peningkatan utang yang lebih ekspansif.

Lagi pula, outlook penerimaan pajak 2018 juga masih waspada karena tidak ada lagi penerimaan ekstra seperti tax amnesty. Imbasnya, SBN akan dominan mendanai proyek infrastruktur. Dana dari sektor privat kecil kemungkinan didapat karena infrastruktur dikenal sebagai investasi dengan masa pengembalian lama dan berisiko tinggi.

Dengan konfigurasi problematika di atas, kunci awal untuk keluar dari masalah ekses likuiditas perbankan adalah mengoptimalkan kebijakan makroprudensial. Relaksasi moneter semakin sempit akibat risiko eksternal terhadap kebijakan Presiden Trump soal pajak, prospek kenaikan Fed Fund rate, dan normalisasi neraca keuangan bank sentral AS.

Dalam jangka panjang, manajemen likuiditas adalah solusi untuk mengubah profil industri perbankan. Melalui fleksibilitas sistem pengelolaan likuiditas, kelebihan dana perbankan bisa terserap ke berbagai instrumen alih-alih hanya terkonsentrasi pada SBN. Alhasil, ‘kanibal’ antara SBN dan obligasi swasta bisa dielakkan.

Tanpa inisiasi upaya di atas, fenomena lazy bank tak terhindarkan. Bank keterusan nyaman menikmati hasil kelolaan dananya di instrumen finansial dan malas menyalurkan kredit kepada sector riil. Risiko terberatnya, target pertumbuhan ekonomi 5,2% tahun ini dan 5,4% di tahun depan bakalan gagal tergapai.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

EVO GROUP BERBAGI BERSAMA ANAK YATIM