Jusuf Kalla Akui Dana Riset di Indonesia Masih Rendah

2/20/2019

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla tak menampik dana research and development (R&D) atau dana riset di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negata lainnya.

"Ya benar bahwa dari segi perbandingan, mungkin kita memang lebih rendah karena begitu banyak kebutuhan nasional kita," kata pria yang akrab disapa JK ini di kantornya, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2019).

JK menjelaskan anggaran tersebut masuk dalam anggaran pendidikan di beberapa universitas dan lembaga, misalnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 

JK pun menilai pemanfaatan riset oleh pihak swasta masih dibutuhkan. Contohnya di Jepang dan Korea, meski kedua negara itu punya lembaga riset tetapi mereka tetap bekerjasama dengan pihak swasta.

"Jadi banyak hal yang bisa diperbaiki. Jadi bisa universitas atau lembaga riset memunculkan produk yang dapat diproduksi dengan baik atau perusahaan itu yang memulai kemudian dibantu oleh lembaga riset pemerintah. Jadi itu banyak yang terjadi seperti itu," kata JK.
2 dari 2 halaman

Dana Riset Rp 26 Triliun

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjawab polemik anggaran Riset dan Pengembangan atau research & development (R&D) Indonesia. Jokowi menyebut, anggaran R&D saat ini sebesar Rp 26 triliun.

"Supaya kita semuanya tahu bahwa dana pengembangan dan riset kita ini sudah Rp 26 triliun," ungkap Jokowi usai bertemu CEO Bukalapak.com, Achmad Zaky di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu 16 Februari 2019.

Menurut Jokowi, anggaran R&D tersebut terbilang besar. Namun, tidak tertutup kemungkinan anggaran itu terus ditingkatkan.

"Ke depan kita ingin mengembangkan," ujar Jokowi. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjelaskan, anggaran R&D sudah menyasar kementerian lembaga. Dengan harapan, penggunaannya tepat sasaran dan memberikan dampak positif bagi pembangunan bangsa.

"Agar arahnya itu jelas. Tembakannya tepat, sehingga inovasi negara ini bisa muncul, muncul, muncul, muncul," kata Jokowi.

Reporter: Intan Umbari Prihatin
Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan berikut ini:

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »